jump to navigation

Tanda-tanda Lailatul Qadar September 2, 2010

Posted by wedangcoro in Tak Berkategori.
add a comment

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja akan mendapatkan keutamaan malam tersebut, karena itu adalah janji Allah kepada kita. Karena itu mengisinya dengan serangkaian ibadah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda,” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR Ahmad).

Jatuhnya Lailatul Qadar

Para ulama bersepakat bahwa Lailatul-Qodar terjadi pada malam bulan Ramadhan. Dan terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut di bawah ini:

1. Lailatul-Qodar itu jatuh pada malam 17 Ramadhan, yaitu malam diturunkannya Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

2. Lailatul-Qodar itu jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: “Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhori, Muslim dan Baihaqi)

3. Lailatul Qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

4. Lailatul-Qodar jatuh pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, Berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

5. Lailatul-Qodar jatuh pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, Seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR Thabroni dan Baihaqi).

Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkannya pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadar

Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pada saat terjadinya Lailatul-Qodar itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

Sedangkan yang harus dilakukan agar dapat menggapainya :

1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.

2. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

3. Melakukan qiyamullail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.

4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal: “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni”. Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan?” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Sabar September 2, 2010

Posted by wedangcoro in Tak Berkategori.
add a comment

“Bersabar bukan hanya sekedar kerelaan menunggu atas tertundanya suatu keinginan, bukan hanya sekedar kemampuan menerima setiap masalah dengan lapang dada. Lebih dari itu, bagi seorang muslim bersabar adalah manifestasi kepercayaan akan keberadaan Rabb-nya, bentuk nyata prasangka baiknya kepada Sang Khalik yang Maha Mengetahui, Maha Mengasihi dan Maha Penolong. Bersabar juga adalah wujud keyakinan yang muncul dari lubuk hati akan segala nikmat dan karunia yang diberikan Allah dan bentuk kemampuan untuk mempergunakannya dengan optimal.

Seorang muslim yang bersabar akan selalu memandang jauh ke depan dengan penuh optimisme. Bersabar berarti mampu memandang dengan sisi yang berbeda setiap kendala. Ketika merasakan betapa sulitnya menggapai suatu usaha, aku yakin bahwa setiap tetesan peluh kita menyimpan makna. Ketika merasakan sesaknya himpitan masalah, kita akan melihat pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kesulitan-kesulitan yang menerpa kita dan menjadikannya sebagai tonggak meraih harapan-harapan dalam hidup kita. Jika kita merasa belum mendapatkan keinginan kita, maka kita akan semakin rajin menempa diri, memperbaiki diri, mengkoreksi diri mencari sebab mengapa do’a do’a kita belum juga dikabulkan.”

~

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya Apabila kilat cinta t’lah menyambar hati ini Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain.”

“Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu pastilah Allah menaruh cinta atasmu. Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan.”

“Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita.”

Hadits-hadits mengenai Ramadhan Agustus 28, 2009

Posted by wedangcoro in Tak Berkategori.
add a comment

Hadits 1: Ramadhan = Sayyidus Syuhur

عَنْ أَبِيْ إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ:”سَيِّدُ الشُّهُوْرِ رَمَضَانُ، وَسَيِّدُ الأَيَّامِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ”.(المعجم الكبير الطبراني) (ابن أبى شيبة ، وعبد الرزاق ، والبيهقى فى شعب الإيمان عن ابن مسعود موقوفًا) أخرجه ابن أبى شيبة (1/477 ، رقم 5509) ، وعبد الرزاق (4/307 ، رقم 7894) ، والبيهقى فى شعب الإيمان(3/314 ، رقم 3638) .

Dari  Abi Ishaq, dari Abi Ubaidah berkata : berkata Rasulullah  saw: Sayyidus Syuhur adalah bulan Ramadan dan Sayyidul Ayyâm adalah hari Jum’at ( Mu’jam Kabîr at-Tabarâni, Syu’ab al-Îmân li al-Baihaqî)

Hadits 2: Amin, amin, amin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ  : إنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي فَقَالَ : بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، قُلْت آمِينَ ، فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّانِيَةَ قَالَ : بَعُدَ مَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْك ، قُلْت آمِينَ ، فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّالِثَةَ قَالَ : بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَهُ الْكِبَرُ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قُلْت آمِينَ } .

Dari Abu Hurairah ra  (bahwasanya) Rasulullah saw pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda.: Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata :

“Ya Allah jauhkanlah (dari) siapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka,  katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin,

“Ya Allah jauhkanlah (dari) siapa yang disebut namamu (Muhammad) dia tidak menjawab dengan bacaan Shalawat atasmu, kemudian meninggal dan masuk neraka katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin,

“Ya Allah jauhkanlah (dari) siapa saja yang masih memiliki Orang tua atau salah satu dari mereka,lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka akupun mengucapkan Amin

[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978.]

Hadits 3 : dari Kitab Mu’jam At Thabrani

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بن أَحْمَدَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن عَبْدِ اللَّهِ بن عُبَيْدِ بن عَقِيلٍ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بن أَبَانَ ، حَدَّثَنَا قَيْسُ بن الرَّبِيعِ ، عَنْ سِمَاكٍ ، عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : ” آمِينَ آمِينَ آمِينَ ” ، قَالَ : ” أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ مَنْ أَدْرَكَ أَحَدَ وَالِدَيْهِ ، فَمَاتَ ، فَدَخَلَ النَّارَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، قَالَ : يَا مُحَمَّدُ مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ ، فَمَاتَ ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَأُدْخِلَ النَّارَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، قَالَ : وَمَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ “.

Dari Abdan bin Ahmad, dari Muhammad bin Abdillah bin Ubaid bin Aqil, dari Isma’il bin Aban,dari Qais bin Rabi’, dari Simak, dari  Jabir r.a. berkata : Nabi Muhammad saw berdiri dan menyeru di atas mimbar dan berkata Amin, Amin, Amin : (sahabat bertanya mengapa mengucap Amin 3x padahal tidak dengar apa-apa/orang berdoa), Rasulullah berkata: Telah datang Malaikat Jibril a.s berkata :

Wahai Muhammad, Siapa saja yang masih memiliki Orang tua atau salah satu dari mereka,lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka jauhkanlah Ya Allah dari itu, Katakanlah Amin,  maka Nabi menjawab : Amin,

Wahai Muhammad , Siapa yang mendapati bulan Ramadhan kemudian dia meninggal dan dia tidak mendapat ampunan, maka dia masuk neraka, maka jauhkanlah Ya Allah dari itu, Katakanlah Amin,  maka Nabi menjawab : Amin,,

dan siapa saja yang disebut Namamu (Muhammad) dia tidak menjawab dengan bacaan Shalawat atasmu, kemudian meninggal dan masuk neraka , maka jauhkanlah Ya Allah dari itu, Katakanlah Amin,  maka Nabi menjawab : Amin, ( HR Thabrani dalam Kitab Mu’jam Kabir At Thabrani)

Juga terdapat dalam :

  1. Kitabnya Imam Qurtuby,  Al Jami li Ahkam al Qur’an (juz 1/hal 3257)
  2. Kitabnya Jalaluddin As Suyuty (pengarang tafsir Jalalain) , Ad Durr Al Manssur (1/372)
  3. Kitab Tafsir  Qadhi Iyadh (8/56)
  4. Kitab Syu’ab Iman – Imam Baihaqi ( 4/93)
  5. Kitab Jami’ Hadits (bab Hamzah 8/493)
  6. Kitab Az Zawajir Sarh Al Kaba’ir (juz 1/294)

Hadits 4: Ramadhan, bulan diturunkannya Kitab-kitab suci

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بن عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَأَبُو مُسْلِمٍ الْكَشِّيُّ، قَالا: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بن رَجَاءَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ، قَالَ:أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ. (المعجم الكبير الطبراني)

Dari Ali bin Abdil Aziz, dan Abu Muslim Al Kasyiy berkata, dari Abdullah bin Raja’ berkata, menghabarkan kepada nya Imran al-Qattan dari Qatadah, dari Abi Malih , dari Watsilah dari Nabi saw beliau bersabda: “Telah diturunkan Suhuf nabi Ibrahim di awal malam bulan Ramdahan, dan diturunkan Taurat pada tanggal 6 Ramadan dan diturunkan Injil pada tanggal 13 bulan Ramadan, dan diturunkan Zabur pada 18 Ramadan dan diturunkan Al qur’an pada 14 Ramadan.” (Mu’jam Kabâr at-Tabarâni)

Hadits 5: Puasa adalah benteng

قال الله سبحانه وتعالى (كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا:إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ).متفق عليه.

Allah swt berfirman: “Setiap amal (ibadah) yang dilakukan oleh Anak keturunan Adam a.s adalah untuk mereka, kecuali Puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku yang memberi pahalanya, Puasa adalah benteng. Jika salah seorang di antaramu berpuasa, maka jangan berkata-kata kotor-yaitu jangan mengatakan ucapan yang tak sepantasnya diucapkan (karena tidak senonoh atau jorok), dan jika seseorang memusuhinya atau mengejeknya, maka katakanlah: “Sesungguhnya saya puasa. Sesungguhnya saya puasa”. Dan demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNYA, sungguh! bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya parfum misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yaitu: ketika berbuka ia gembira dan ketika ia berjumpa dengan TuhanNya karena puasanya itu.” (Sahîh Bukhârî dan Muslim)

Hadits 6:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Dari Abu Hurairah ra , dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Puasa adalah benteng. Jika salah seorang di antaramu berpuasa, maka jangan berkata-kata kotor-yaitu jangan mengatakan ucapan yang tak sepantasnya diucapkan (karena tidak senonoh atau jorok), dan jangan berlaku bodoh, seperti berbuat gaduh, takkabur, arogan, dan congkak dan jika seseorang memusuhinya atau mengejeknya, maka katakanlah: “Sesungguhnya saya puasa. Sesungguhnya saya puasa”. Dan demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNYA, sungguh! bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya parfum misik. Allah Yang Maha Agung berfirman: “Sesungguhnya orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena-Ku, maka puasanya adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan kebaikan sepuluh kali lipat.” (Sahîh Bukhârî)

Hadits 7:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ ، أَنَّ رَسُولُ اللهِ  قَالَ يَوْمًا وَحَضَرَ رَمَضَانُ : أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، فِيْهِ خَيْرٌ يُغْشِيْكُمُ اللهُ [فِيْهِ]، فَتُنْزِلُ الرَّحْمَةُ، وَتُحِطُ الْخَطَايَا، وَيُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ، فَيَنْظُرُ اللهُ إِلَى تَنَافَسِكُمْ، وَيُبَاهِيُ بِكُمْ مَلاَئِكَتُهُ، فَأَرُوْا اللهُ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَ مِنْ حَرَمِ فِيْهِ رَحْمَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. مُسْنَدُ الشَّامِيِيْنَ لِلطَّبَرَانِيْ

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah saw bersabda mengenai hadir nya bulan Ramadan:”Telah datang kepada kalian bulan Ramadan bulan barakah, di dalamnya Allah membuka untuk kalian kebaikan kebaikan, Allah menurunkan RahmatNya, menghapus dosa dosa, mengabulkan doa, Allah memperhatikan  upaya-upaya kalian (untuk berlomba-lomba dalam kebaikan), dan Allah begitu membanggakanmu dihadapan para Malaikat, Allah menampakkan dari diri kalian kebaikan kebaikan, karena sesungguhnya diharamkannya (sesuatu yang halal di bulan Ramadan) didalamnya terdapat rahmat Allah Azza wa jalla (Musnad asy-Syâmîn Li at-Tabarânî) dan hadits yang serupa dari Ibn Najar sebagaimana dalam at-Targhîb wa Tarhîb Ibn Mundzir.

Hadits 8: Ramadhan :Surga dibuka, neraka ditutup dan Syetan dibelenggu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ  (البخارى, مسلم)

Dari Abi Hurairah ra , Rasulullah saw bersabda : Apabila  bulan Ramadan tiba maka dibukalah  pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu neraka (Jahim) dan dibelenggunya setan-setan (Sahîh Bukhârî, Muslim)

Hadits 9: Ar Rayyan : Pintu Surga untuk Sha’imun

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ (فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ)رواه البخاري.

Dari Sahl bin Sa’ad  dari Nabi saw bersabda: ” Di Surga itu ada delapan pintu, salah satu pintunya diberi nama Ar Rayyân, dimana tidak diperkenankan masuk melewatinya kecuali bagi orang-orang yang puasa. (Sahîh Bukhârî)

Hadits 10: Puasa dan Tarawih : “Satu Paket”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) متفق عليه

Dari Abu Hurairah ra.  dari Nabi saw, (bahwa) beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap rida Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang Qiyamulail di malam bulan Ramadan dengan  penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Sahîh,hadits Riwayat Bukhârî dan Muslim ).

Kenikmatan Ramadhan September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

BULAN Ramadhan adalah bulan kebahagiaan bagi semua orang. Andaikan rutinitas bulan Ramadhan diberlakukan sebagai aktivitas kebaikan di bulan-bulan berikutnya, alangkah indahnya hidup ini, karena aksi kemunkaran sangat mungkin bisa distop. Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kita untuk melakukan riyadhah (latihan) mengendalikan hawa nafsu dengan sekuat tenaga.

Kalau selama bulan Ramadhan ini kita sukses mengendalikan hawa nafsu, maka ketika keluar dari bulan Ramadhan kita sudah memiliki daya tahan dan daya penangkal yang baik. Kasih sayang dan ampunan Allah tidaklah terbatas, maka kewajiban kita adalah terus berusaha untuk mendapatkan keduanya, bukan saja pada bulan Ramadhan, tapi setiap detik dari hidup kita harus digunakan untuk mendapatkan keduanya.

Itulah sebabnya mengapa banyak orang mengatakan bahwa kita akan kembali fitrah (suci) setelah menjalani Ramadhan karena kasih sayang dan ampunanNya Nikmat Allah sungguh melimpah pada bulan Ramadhan ini. Berapa banyak orang yang meraup keuntungan materi lebih banyak lagi pada bulan Ramadhan ini? Berapa keluarga miskin yang mendapat tambahan menu pada bulan Ramadhan ini? Berapa perusahaan yang menambah jumlah produksinya karena permintaan konsumen pada bulan Ramadhan ini meningkat? Banyak keluarga yang meningkatkan kualitas menu hidangan makan untuk sahur dan buka shaum, tentu saja hal itu akan menambah anggaran belanja. Padahal logikanya, pada Ramadhan ini jumlah konsumsi yang kita makan menjadi lebih sedikit dibanding hari-hari biasa. Tapi mengapa anggaran belanja menjadi semakin membengkak? Intinya, semua orang dari berbagai kalangan merasakan nikmat yang besar pada bulan Ramadhan ini.

Sungguh, nikmat Allah yang luar biasa itu wajib kita syukuri. Tapi masih saja ada orang yang putus asa akan nikmat Allah. Keputusasaannya semakin menjadi-jadi tatkala memasuki bulan Ramadhan. Mereka menjadi gundah dan resah sehingga konsentrasi mereka untuk meningkatkan kualitas ibadah pun menjadi buyar tidak karuan. Dengan demikian, jangan pernah kita lewatkan detik demi detik di bulan mulia ini tanpa nilai ibadah. Di bulan Ramadhan ini kita harus semakin menjaga diri dari apa pun yang Allah haramkan. Kita isi waktu dengan memperbanyak membaca Al-Quran atau berzikir. Allah Maha Melihat perjuangan kita. Kita harus berupaya agar Allah Yang Maha Menyaksikan benar-benar melihat diri kita menjadi orang yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Mulai saat ini, jauhkan telinga kita dari sesuatu yang tidak layak untuk didengar. Hindari kata-kata yang sia-sia, latihlah untuk tidak celetak-celetuk asal bicara Jangan sampai kata-kata kita malah menambah kekotoran diri. Di samping itu, Ramadan adalah saat di mana kita menjadi paling dermawan dalam hidup kita sebagaimana Rasulullah menafkahkan rezekinya di bulan Ramadan. Tidak sulit bagi Allah untuk membalas setiap hamba-hamba-Nya.

Kepompong Ramadhan September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat burlu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur’an dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.

Ramadhan Bulan Bersih Diri September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

SUNGGUH betapa beruntungnya bagi siapa saja yang masih diberikan waktu untuk dapat mengecap keindahan bulan Ramadhan. Sungguh! Nikmat Allah sungguh melimpah pada bulan Ramadhan ini. Dan nikmat Allah yang luar bia-sa itu wajib kita syukuri. Tibanya Ramadhan kali ini, sudah se-harusnya kita sambut dengan penuh syukur. Kita tekadkan bulan suci ini sebagai arena bagi kita untuk membersihkan diri.

Jadikanlah bulan ini sebagai bulan kebersihan. Sebab Allah sesungguhnya mencintai orang yang tobat dan orang yang bersih. Di bulan ini, rahmat dan ampunan Allah begitu dahsyat. Karena itu, betapa malangnya bila kita tidak mampu memanfaatkan bulan penuh barokah ini untuk membersihkan diri dengan sebaik-baiknya. Kita harus berjuang keras dalam mengevaluasi gaya hidup bersih kita. Pakaian yang kotor tidak akan nyaman digunakan, gigi yang kotor pun jelas akan mengundang penyakit.

Singkatnya, apa pun yang kotor tidak akan membuat kita dapat menjalani hidup dengan nyaman dan indah. Bila kita coba telaah sedikit lebih dalam, kotoran sering identik dengan kerendahan diri. Namanya juga kotoran. Begitu pula jika kita merasa tidak nyaman, terhina, atau rendah, bisa jadi karena kita belum terbiasa mencintai kebersihan, padahal bersih adalah prasyarat dari keindahan. Indah adalah sesuatu yang dicintai Allah SWT.

Coba kita perhatikan! Shalat saja harus diawali dengan berwudhu untuk membersihkan diri. Tanpa wudhu, tidak sah shalatnya. Oleh karena itu, jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan bersih. Sekuat-kuatnya kita bersihkan diri. Bersih lahir, bersih batin.

Kita mulai saja dari hal-hal terkecil. Misal, pastikan di bulan Ramadhan ini kamar kita bersih, kamar mandi bersih, dapur dan segala macam bersih. Bersih dari sampah, kotoran, dan juga bersih dari barang-barang yang dapat membuat kita riya. Jadikan pula rumah kita bersih dari barang-barang milik orang lain dan bersih dari barang yang tidak berguna.

Sebab jika rumah sudah kotor, apalagi banyak tersimpan barang haram di dalamnya, barang yang dapat membuat riya, barang yang sia-sia, maka bisa jadi rumah kita tidak barokah. Melatih diri untuk senantiasa hidup bersih lahir bathin adalah suatu tuntunan yang harus dijalani. Namun langkah itu sangat bergantung pada keseriusan dan tekad diri kita sendiri. Pola hidup bersih harus berawal dari diri sendiri.

Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap dan tindakan. Berusahalah agar setiap untaian kata yang keluar dari lisan kita penuh makna. Hindari kata-kata kotor, keji dan tidak senonoh. Sebab setiap kali kita bicara kotor, layout wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk.

Menurut suatu penelitian, untuk sebuah senyuman dibutuhkan tujuh-belas tarikan otot wajah. Sedangkan jika wajah masam, cemberut atau marah, kita memerlukan tarikan tiga puluh dua otot. Secara fisik tentu jelek, apalagi dihitung dari sudut kesucian hati. Makin hidup kita bersih, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Tapi kalau cermin kotor, penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah.

Makin bersih diri kita, Insya Allah kita akan lebih peka melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Bahkan kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan juga ilmu. Sebaliknya, bagi yang kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang lain, melihat kekurangan diri saja tidak mampu.

Oleh karena itu amat sangat beruntung, sukses, bahagia, dan mulia, bagi orang-orang yang terus menerus mensucikan dirinya, suci lahir, suci batin. Maka marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai titik awal bagi kita untuk membersihkan diri. Kita budayakan hidup bersih sebagai kunci dari kebahagiaan, kunci dari kesuksesan. Pastikan benda duniawi apapun yang kita miliki, tidak lebih berharga dari diri kita sendiri.

Dengan begitu, Insya Allah kita tidak akan pernah kehilangan kehormatan, kemuliaan, walaupun dunia sudah tiada bersama kita. Selamat menikmati indahnya shaum Ramadhan, semoga Allah Yang Maha Gagah memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya, amin. Wallahu alam.

Ramadhan Bulan Turunnya Al Qur’an September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

RAMADHAN, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (al-Baqarah:185) Maha Agung Allah Yang Maha Menggenggam langit, bumi, dan isinya. Maha Suci Allah Dzat Yang telah mewahyukan Alquran kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sehingga dengan petunjukNya itulah setiap manusia memiliki pedoman hidup, pegangan yang akan membawanya pada kebahagian dunia dan akhirat.

Subhanallah, Alquran laksana hamparan laut yang tidak bertepi. Di dalamnya tertulis firman Allah sebagai petunjuk bagi manusia. Alquran bukanlah sekadar teks yang hanya untuk dibaca, melainkan firman Allah yang sudah semestinya diamalkan, sebab hanya dengan pengamalanlah Alquran akan menjadi penerang. Bahkan akan melimpahkan cahaya petunjuk yang terus dan terus mengalir. Apa jadinya kalau orang berjalan di kegelapan tanpa lampu penerang? Tentu saja, berjalan di lorong yang gelap gulita, sungguh sangat menakutkan. Setiap langkah tidak tenteram, selalu dicekam kecemasan. Begitupun orang yang tidak mendapatkan hidayah (tuntunan) dari Allah. Hidupnya akrab dengan kecemasan.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat 185 surat Al-Baqarah tersebut, bahwa tujuan utama pewahyuan Alquran adalah sebagai Hudan (petunjuk) bagi manusia. Hampir pasti bahwa seorang Muslim tidak mungkin mampu menjadikan Alquran sebagai petunjuk manakala ia tidak paham isi dan makna Alquran. Itulah sebabnya bahwa setiap Muslim wajib berusaha untuk mampu memahami makna dan isi Alquran.

Setiap Muslim wajib mengimani Alquran. Kewajiban ini merupakan konsekuensi syariat bahwa setiap Muslim beriman memang harus beriman kepada kitab suci dan Alquran merupakan salah satu kitab suci, di samping Taurat, Zabur dan Injil. Setiap Muslim beriman wajib menyadarkan dirinya untuk senantiasa memegang teguh keimanannya terhadap Alquran. Sebagai bukti bahwa seseorang itu beriman kepada Allah adalah kesanggupan dan kesediaannya untuk mengikuti perintah Allah. Salah satu perintah Allah yang tercantum dalam Alquran adalah membaca Alquran. Bukankah wahyu yang pertama kali diturunkan adalah Iqra(perintah untuk membaca).

Al Bukhari menyatakan bahwa Iman adalah ucapan dan perbuatan. Seorang Muslim baru sempurna imannya manakala ia mengamalkan isi dan petunjuk Alquran. Seorang Muslim yang tidak mengamalkan isi dan petunjuk Alquran akan sama nasibnya dengan seorang Musafir yang membawa peta, ia paham dengan petunjuk peta, tetapi ia tidak bersedia mengikuti petunjuk peta. Tidak ada nasib lain baginya kecuali sesat dalam perjalanannya. Naudzubillah.

Setiap Muslim beriman wajib mewariskan Alquran kepada putra-putrinya. Alquran adalah petunjuk kehidupan. Barang siapa yang mewariskan Alquran kepada putra-putrinya berarti ia mewariskan petunjuk kehidupan yang akan menyelamatkan putra-putrinya dari kesesatan. Rasulullah menyatakan: Aku wariskan kepadamu dua hal; kalian akan selamat manakala berpegang teguh kepadanya; Kitab Allah (Alquran) dan Sunnah rasul (HR. Al Bukhari-Muslim).

Seorang Muslim yang tidak mewariskan Alquran kepada putra-putrinya berarti ia merelakan putra-putrinya terjerumus dalam kehidupan. Orangtua yang demikian sama zhalimnya dengan orangtua yang membuang bayinya di hutan atau menceburkannya di tengah lautan. Mewariskan Alquran kepada putra-putri artinya mendidik putra-putri secara serius, sehingga putra-putri yang telah diamanatkan oleh Allah itu benar-benar mengimani Alquran, mampu membacanya secara benar dan baik, tekun mempelajari dan mendalami makna serta isinya dan menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam setiap aktivitas kehidupannya. Semoga kita semua termasuk di dalamnya, amin. Wallaahu alam

Shaum Mendidik Kejujuran September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

DI bulan Ramadhan ini, saat kita menjalankan ibadah shaum, andai saja kita masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Kemudian di dalam kamar itu kita melakukan hal-hal yang dapat membatalkan shaum, seperti makan atau minum, kira-kira adakah orang lain yang tahu? Ya, mungkin orang tidak tahu, tapi tentu saja kita yakin bahwa Allah Maha Tahu, Maha Menatap segala apa yang kita lakukan. Karenanya dengan keimanan kita, Insya Allah, kita akan yakin bahwa kita tidak bisa tidak berbuat jujur di hadapan Allah.

Demikianlah sahabat, Ramadhan sesungguhnya merupakan salah satu momen untuk mendidik kejujuran kita. Dan sadarilah, bahwa kejujuran merupakan aset berharga dalam hidup kita. Coba kita perhatikan! Betapa sering kita dapati orang yang begitu tinggi pangkat dan kedudukannya serta begitu mulia perjuangannya. Akan tetapi, tiba-tiba terpelanting menjadi orang yang tidak berharga ketika diketahui ternyata ia seorang yang licik, tidak jujur, dan tidak bersih.

Demikian pun kita. Ketika ingin mendapatkan sesuatu, lalu kita tergerak untuk berlaku tidak jujur dan licik, maka sebenarnya kita tengah bersiap untuk mencorengmorengkan arang di wajah sendiri, memudarkan cahaya kemuliaan keluarga, dan mempermalukan keturunan kita. Betapa tidak! Orang-orang yang hidupnya berlumuran ketidakjujuran, kendati setinggi apa pun pangkat dan kedudukannya, tetaplah tidak memiliki nilai.

Oleh karena itu, hendaknya kita, bertekad untuk sekuat-kuatnya menahan diri dari niat dan kehendak berlaku tidak jujur di dalam ikhtiar mencari duniawi. Kalau kita hanya senang terhadap harta, gelar, pangkat dan jabatan, maka sesungguhnya orang kafir dan zhalim pun cita-citanya seperti itu. Kita harus mendapatkan yang jauh lebih tinggi lagi daripada semua itu, yakni sikap kita dalam menghadapi kehidupan ini.

Ketika Allah menitipkan harta dan kedudukan mulia, semua itu seharusnya membuat kita bersyukur. Dan tatkala harta dan kedudukan mulia itu diambilNya kembali, seharusnya membuat kita bersabar. Berikhtiar sungguh- sungguh untuk mendapatkan semua itu, membuat kita sanggup memelihara kejujuran. Inilah sesungguhnya yang membuahkan nilai tertinggi dan membuat kita bermartabat.

Kalau kita yakin bahwa satu-satunya Dzat Pembagi Rizki adalah Allah, lantas mengapa kita mesti tidak jujur hidup di dunia ini? Jujur atau tidak jujur tetaplah rizkinya dari Allah. Hanya saja akan berubah rizki itu statusnya menjadi haram sekiranya kita mendapatkannya dengan cara licik! Dimakan oleh kita membuat amal ibadah tidak diterima Allah selama 40 tahun. Dimakan oleh istri dan anak-anak, sama saja dengan menjerumuskan mereka ke neraka jahanam. Dan yang jelas, harta haram membuat doa kita tidak akan pernah diijabah.

Hidup tidak jujur pun ternyata bisa membuat hati tidak pernah nyaman dan tenteram. Kita akan selalu dihantui oleh kekhawatiran diketahuinya kebohongan itu oIeh orang lain. Walhasi1, dengan tidak jujur, berarti kita mempersempit hidup diri sendiri padahal hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Bagi orang-orang yang tulus dan jujur, kenikmatan hidup bukanlah diukur dari banyaknya harta atau kedudukan yang didapat melainkan dari kemampuannya memelihara diri. Orang yang terjaga kejujurannya walaupun hidupnya tampak sederhana, namun ia tetap akan memiliki cahaya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan pertolonganNya, agar dalam sisa umur ini, kita diberi kemampuan untuk menjaga martabat dan harga diri kita dengan kejujuran, serta kebersihan dan ketulusan hati. Selamat berlatih bersikap, berkata, dan berbuat jujur, di bulan yang dimuliakan Allah ini. Wallaahu allam.

Menyongsong Jamuan Ramadhan September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

Semoga Allah memberikan umur kepada kita untuk menikmati jamuan-Nya yang sangat spektakuler saat ini, yaitu datangnya bulan Ramadhan. Jamuan Allah yang membuat orang yang putus harapan jadi bisa berharap, yang putus asa jadi bisa bangkit, yang hampir lumpuh semangatnya bisa berkobar lagi. Janji-janji Allah di bulan Ramadhan ini memang begitu dahsyat. Seumpama benih yang telah mati, tiba-tiba diberi pupuk yang membangkitkan kekuatan dahsyat sehingga apapun yang layu dibuatnya tegar kembali.

Kalaulah kita banyak menghadapi hidup ini dengan rasa berat, seakan-akan tipis harapan, maka Ramadhan adalah saat dimana Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berharap dari keberkahan bulan ini.

Seharusnya kita bersimbah air mata karena merasa ingin sangat ingin menikmati jamuan Allah SWT pada bulan Ramadhan kali ini. Seperti saat kita melihat seorang dermawan yang kaya raya dan mulia akhlaknya akan menjamu seseorang, dan ternyata kita akan merasa gembira sekiranya kita diundang atau dijamu oleh orang yang sangat kita segani ini.

Apalagi Ramadhan bukanlah jamuan dari makhluk, tapi langsung jamuan dari Pencipta Alam Semesta yang Mahatahu lumuran dosa kita, yang Mahatahu segala derita dan harapan dan harapan kita. Amatlah rugi andaikata kita tidak termasuk orang yang merasa sangat ingin memasuki Ramadhan ini dalam keadaan siap.

Berikut ini adalah khutbah Nabi SAW ketika menyambut bulan Ramadhan. Beliau bersabda : “Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah.Bermohonlah kepada Allah Robb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingnya untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celaka orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu sebagai kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkan tali persaudaraanmu, jaga lidahmu. Tahanlah pandanganmu dari yang tidak halal kamu memandangnya, dan jagalah pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tanganmu untuk berdoa dalam shalat-shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka yang memanggil-Nya dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Pungung-punggung-mu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah Taala bersumpah dengan segala kebesarannya, bahwa dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud dan tidak akan mengamcam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Robbul alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi (makanan untuk) berbuka kepada orang-orang mukmin yang melaksanakan shaum pada bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

Para sahabat bertanya'”Ya Rasulullah tidaklah kami semua mampu berbuat demikian”. Rasulullah meneruskan (khutbahnya),”Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian walupun hanya dengan seteguk air”.

Wahai manusia! Barangsiapa membaguskan akhlaknya pada bulan ini, dia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan mulut-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) pada bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akan memutuskan daripadanya rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat pada bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan tujuh puluh shalat fardhu pada bulan yang lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku pada bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al Quran maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhan-mu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Robbmu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan dibelenggu maka mintalah agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karomallhu wajhah berdiri dan berkata'”Ya Rasulullah, amal aoa yang paling utama pada bulan ini?”. “Ya Abul Hasan amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla” jawab Nabi SAW (HR.Ibnu Khuzaiman,Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Nah sahabat. Kita tidak akan pernah berjumpa dengan kemudahan ampunan kecuali di bulan Ramadhan ini. Sebanyak dan semelimpah apapun dosa kita, sungguh Allah menjanjikan ampunan-Nya di bulan ini. Kalau kita merasa berat hidup karena lumuran dosa dan maksiat, maka ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita. Kalau kita merasa gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita dililit utang piutang, maka Allah adalah Dzat Mahakaya yang menjanjikan terkabulnya terkabulnya doa, dilunasi-Nya apa yang kita butuhkan.

Karenanya sungguh sangat rugi andaikata kita tidak bergembira ria, tidak bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Ramadhan diawali dengan adzan berkumandang, maka itulah saat syetan dibelenggu, dimulainya hitungan pahala amal yang berbeda, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Maka sudah selayaknya kita harus sangat bersungguh-sungguh berharap agar Allah menjamu kita dengan menyiapkan diri jadi orang yang layak dijamu oleh Allah

Kembali Ke Fitrah September 16, 2008

Posted by wedangcoro in Bersih Jiwa.
add a comment

MAKA hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS ar-Ruum [30]: 30).

Sesuai fitrah, kita lahir ke dunia ini tanpa dibebani dosa apa pun. Kita tidak pesan untuk terlahir menjadi manusia. Dan salah satu hal yang paling fitrah di antara karunia Allah yang ada adalah kita membutuhkan dan menuhankan sesuatu. Dan bagi yang benar, maka dia berhasil menuhankan Allah Azza wa Jalla.

Maka, orang yang kembali ke fitrah itu tiada lain adalah kembali menuhankan Allah. Karena, setiap kali kita menuhankan sesuatu selain Allah, kita akan diperbudak oleh yang kita Tuhankan, dan juga kita akan menjadi sangat terhina. Karena posisinya begini: Allah pemilik semesta alam, menciptakan kita selaku hambaNya. Kita hamba Allah. Dan untuk membuat kita efektif menghamba kepada Allah, maka Allah menciptakan dunia dan semua yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, dunia ini adalah sarana yang dapat kita gunakan untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa, kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka kalau sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang beberapa waktu kemudian. Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar risiko yang akan kita hadapi di hadapan Allah SWT.

Ibadah shaum Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan RasulNya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan batil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal.

Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang. Semoga Allah SWT menetapkan kita dalam kesucian lahir maupun batin, amin. Wallahu alam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.