jump to navigation

Ujian Kesabaran Agustus 24, 2008

Posted by wedangcoro in Jati Diri.
trackback

UJIAN kesabaran itu bermacam-macam. Termasuk sabar ketika sakit. Suatu hari ada seorang wanita tua menghadap Rasulullah SAW. Lalu dia meminta doa agar disembuhkan dari sakit epilepsi. Wanita itu ingin sembuh sebab setiap kambuh auratnya seringkali terbuka. Maka Rasulullah SAW berkata padanya: Saya bisa berdoa untuk Anda, tapi jika Anda mau bersabar Anda akan mendapatkan syurga.Maka wanita itu memilih mendapatkan syurga. Tapi beliau meminta doa Rasul SAW agar tidak terbuka auratnya jika suatu saat penyakit itu kambuh. Walhamdulillah, kesabaran menghadapi epilepsi buahnya adalah syurga.

Seorang remaja yang beranjak dewasa atau menjelang baligh, cenderung menggebu-gebu dorongan syahwatnya. Demikianlah adanya. Ini adalah kecendrungan yang normal. Untuk menahan gejolak yang meledak-ledak, Rasulullah SAW menyarankan kita berpuasa. Tapi kita harus jujur, keinginan untuk menghindari zina mata harus tulus, tidak didasari oleh alasan apa pun selain karena Allah.

Masa remaja adalah masa perkembangan. Kita akan mencari teman sebanyak-banyaknya dan akan terus berusaha mengekplorasi kemampuan kita. Hal itu lebih positif dan menguntungkan.

Tapi jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita merasa teman-teman menjauhi kita. Menurut dugaan, penyebabnya adalah karena penyakit yang kita idap, misalnya saja epilepsi. Mereka merasa takut jangan-jangan penyakit itu kambuh di hadapan mereka. Itu baru dugaan kita, kita belum tahu penyebab sebenarnya.

Mungkin saja sebagian orang takut tertular karena mengira penyakit itu sama dengan TBC yang bisa menular lewat udara. Padahal tidak demikian, mereka belum tahu ilmunya. Kita tidak perlu merasa minder dengan penyakit kita. Kita pasrah dan ridha saja dengan takdir Allah.

Orang akan merendahkan kita jika kita salah menyikapi sakit kita. Sikap kita buruk, misalnya mudah emosi, tidak ramah, dan sering marah-marah. Sebaliknya, orang justru akan hormat jika melihat kita tabah, sabar, dan menjunjung tinggi harga diri. Mungkin mereka akan simpati, peduli, dan membantu setelah melihat ketabahan kita.

Kesalahan menyikapi penyakit akan berpengaruh pada keimanan kita akan takdir Allah. Jodoh itu sepenuhnya urusan Allah. Tidak perlu kita khawatir tidak mendapat pasangan hidup karena penyakit kita. Jika kita sabar, lapang dada, dan ikhlas, mungkin saja Allah akan mengaruniakan pasangan yang ideal buat kita.

Tidak salah kalau kita mengharapkan kesembuhan pada Allah. Selain melakukan upaya medis, kita juga harus terus berdoa mudah-mudahan kita kuat menjalani ujian ini.

Orang yang sakit tentu kemampuannya terbatas. Hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan tentang amaliah ibadah. Perlu diingat bahwa Islam itu tidak akan menyulitkan kita. Jika kita sulit berdiri untuk melakukan shalat, maka boleh kita melakukannya sambil duduk, berbaring, atau hanya dengan tanda saja.

Demikian juga dengan shaum, seperti halnya shaum Ramadhan kali ini, maka orang yang sakit boleh meninggalkan shaum dan menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya di luar bulan Ramadhan.

Rasulullah bersabda: Berpuasalah maka kamu akan sehat. Mudah-mudahan shaum Ramadhan ini menjadi terapi bagi siapa pun yang mengalami sakit. Jangan pernah kita menganggap kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan ini sebagai siksaan. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan pada kita untuk menjalani Ramadhan ini. Wallahu alam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: